Serba Serbi Naik Angkot

17:22 0 Comments A+ a-

Setelah lama tidak naik angkutan umum, akhirnya kesampaian juga minggu kemarin jalan-jalan naik bis kota. Saya sendiri sudah lupa kapan terakhir naik bis kota. Tapi waktu itu ongkosnya cuma 2000an, sekarang sudah naik hingga 4000an. Untung kali ini penumpangnya tidak penuh, jadi bisa leluasa memilih tempat duduk.

Kalau diingat, ada banyak cerita yang saya ingat selama saya menggunakan bis umum atau angkutan umum. Dari yang biasa-biasa saja dan lazim dialami banyak orang semisal bertemu kawanan copet sampai yang agak aneh dan memacu adrenalin .

Waktu masih SMA saya sering naik angkot sejenis oplet ( yang bentuknya mirip-mirip opletnya si Dul Anak Sekolahan ). Oplet ini sering beroperasi tanpa kernet. Jadi saat kita tiba di tempat tujuan, penumpang harus mencari cara untuk bilang sama sopirnya. Biasanya penumpang mengetuk pintu oplet dengan uang logam. Atau bisa juga dengan berteriak ala kernet.Tapi ada juga pemilik angkot yang kreatif dengan memasang tombol lampu di bagian belakang. Jadi waktu mau turun kita tinggal pencet tombolnya dan lampu di depan pak sopir akan menyala.

Angkot kecil ini jurusannya dari pasar kecamatan menuju pusat kota. Jadi penumpangnya campur baur antara anak-anak sekolah dan pedagang-pedagang pasar plus barang bawaannya.

Sebenarnya dengan naik bis kita bisa menghemat tenaga, karena tinggal duduk kita diantar ke tujuan. Tapi lamanya waktu tempuh kadang menjadi pertimbangan tersendiri. Sering waktu kita habis tersita di jalan karena bis yang kita tumpangi berjalan sangat lambat. Biasanya bis ini berjalan lambat karena mencari penumpang atau menyesuaikan dengan target waktu trayeknya. Kalau kejadiannya seperti ini ya sudah, bisanya pasrah saja kapan sampainya.

Klo ada bis kota yg jalannya lambat merayap, ada juga yang kebalikannya. Bis ngebut dan saling salip mengejar target waktu atau penumpang. Yang model begini kadang menguntungkan kita sebagai penumpang karena cepat sampai tujuan. Walaupun resikonya sangat berbahaya untuk penumpang dan pengguna jalan lainnya.

Nah, ada kebiasaan buruk pengemudi bis yang saya temui, yaitu menurunkan penumpang sebelum sampai di tempat tujuan. Biasanya karena penumpang tinggal sedikit dan bis nya mau putar arah atau pulang kandang. Para penumpang disuruh turun, ongkos dikembalikan dan kita disuruh menunggu bis yang lainnya. Tapi ada juga yang tipe yang lebih bertanggungjawab. Kernetnya yang mencarikan bis untuk kita, bayar ongkosnya sekalian dan penumpang tinggal naik.

Selain itu, saya pernah punya pengalaman ter"ill feel" waktu naik bis kota. Di tengah perjalanan, sopir berhenti  dan bergegas ke bawah pohon. Sempat heran dan bertanya-tanya, kenapa ini bis nya berhenti. Ternyata ..  Oh No .. supirnya itu mau pipis. Bukan hanya itu saja, waktu saya mau turun dia yang ngasih uang kembalian ke saya. Tambah ill feel kan ?

Dan yang terakhir ini adalah pengalaman paling memacu adrenalin. Waktu itu bis yang saya tumpangi melewati perlintasan rel KA. Tanda peringatan sudah dibunyikan dan palang pintu lintasan sudah tertutup. Tapi tidak disangka kernet turun membuka palang lintasan dan menerobosnya. Itu bisa dibilang pengalaman naik angkot yang paling mendebarkan dan menjengkelkan. Dan itu cukup membuat saya kemudian berpikir dua kali untuk melewati jalur itu kembali.
Kalau di televisi ada kecelakaan yang terjadi di pintu perlintasan kereta, saya biasanya ingat kejadian waktu itu.

Kini oplet kecil sudah tidak beroperasi lagi. Bis kota masih ada, tapi kebanyakan masih menggunakan sistem lama, di mana bis akan berhenti di sembarang tempat untuk membawa dan menurunkan penumpang.

Semoga ke depannya transpotasi semakin baik. Ada halte untuk semua bis yang beroperasi. Selain penumpang juga lebih nyaman, lalu lintas tidak terganggu akibat berhentinya bis secara mendadak. Selain itu, kalau semua bis bisa menjangkau lebih jauh ke pedesaan, saya percaya transportasi umum akan jadi pilihan masyarakat.

Terima kasih telah berkunjung. Mohon maaf atas moderasi yang saya lakukan. Saya akan berusaha membalas komentar secepatnya ...