Yang Hilang Yang Kembali

10:45 2 Comments A+ a-

          "Kita akan lebih mencintai suatu barang kalau barang itu hilang."

Kalimat itu saya dengar waktu saya masih unyu-unyu. Adalah sebuah radio yang membuat kuis untuk para pendengarnya. Kuis itu meminta kita untuk membuat kalimat menggunakan kata : hilang, mencintai dan barang. Ternyata dengan 3 kata itu tercipta kalimat yang bermakna. Meski tidak selalu, tapi kalimat itu ada benarnya. Kadang kita semakin merindukan sesuatu kalau sesuatu itu telah hilang. Apalagi kalau sesuatu yang hilang itu sangat berarti untuk kita.
-gambar ilustrasi-
Kalau diingat, mungkin banyak sekali peristiwa kehilangan yang saya alami. Dari yang sepele sampai sesuatu yang berharga. Dari kehilangan benda hingga meninggalnya seseorang kerabat. Tapi ada peristiwa kehilangan dimana saya tidak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan. Ya, karena saya tahu kalau dia hilang sewaktu dia kembali. 
Ini adalah cerita lama tentang dompet saya ... 

Hari itu sebagaimana biasa, saya menjalani rutinitas dinas pagi di RS. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh kedatangan bapak dan adik yang membawa dompet saya. Sempat kaget, karena seharusnya dompet itu ada di tas saya, tapi ini malah ada bersama bapak. Bapak bilang tadi ada yang mengantar dompet itu ke rumah. Katanya dia menemukan dompet saya di jalan raya depan RS. 

Sempat merasa bersalah juga, dompet yang isinya tak seberapa itu bikin repot orang tua, he. Di dalamnya tidak ada surat berharga atau uang berjuta-juta. Sebagai pegawai baru, hanya sebuah KTP yang setia mengisi dompet saya. Bisa jadi dompet itu jatuh pas saya turun dari bis dan penemunya mengantarnya ke alamat yang tertera di KTP. Akhir cerita, dompet itu kembali kepada saya.

Beberapa tahun berlalu, kondisinya sangat jauh berbeda. Dompet saya tidak tipis lagi, tapi lebih berisi. Bukan hanya KTP saja, di situ juga ada STNK, beberapa kartu penting dan lembaran uang ratusan ribu rupiah. Kebetulan saya baru saja mendapat bonus dari tempat saya bekerja. 
Seperti mengulang cerita, pagi itu saya tidak sadar kalau dompet saya jatuh di jalan. Hingga pada siang harinya, datang dua remaja orang yang katanya mencari rumah saya.
"Ini dompet punya mbak ya ?" tanyanya sambil menyodorkan sebuah dompet.
Dan betul, itu adalah dompet saya. Masih terkejut, saya terima dompet itu sambil tak lupa memberikan tanda terima kasih untuk adik-adik itu. Semoga hadiah itu bisa jadi penyemangat mereka untuk terus jujur dan berbuat baik.
Usut punya usut, dompet itu jatuh waktu saya naik motor dari rumah saudara. Jatuh dari saku jaket yang tidak dikancingkan dengan benar. Akhir cerita, dompet itu juga kembali kepada saya.

Kehilangan sesuatu karena keteledoran itu kadang meninggalkan rasa bersalah. Beda halnya kalau kita sudah berhati-hati tapi ditakdirkan hilang, kok rasanya lebih mudah memaafkan diri. Kini saya berusaha lebih cermat dan teliti, agar dompet saya tidak tercecer lagi. Kalaupun harus hilang, saya berharap dia kembali lagi ...

2 komentar

Write komentar
Kamis, 14 Januari 2016 12.07.00 WIB delete

Alhamdulillah... makin yakin kalau masih ada banyak orang baik di bumi ini. dompet gitu loh... dan saya percaya mbak juga orang baik, krn itu ada banyak penolong. salam kenal mba... :)

Reply
avatar
Kamis, 14 Januari 2016 19.23.00 WIB delete

Hai Mbak,
Aamiin ..
Iya, Mbak. Mereka memberi inspirasi kita untuk tidak kalah dengan mereka. Untuk selalu jujur ..

Reply
avatar

Terima kasih telah berkunjung. Mohon maaf atas moderasi yang saya lakukan. Saya akan berusaha membalas komentar secepatnya ...