Jejak di Garis Waktu : Pikiranku, Perasaanku dan Pilihanku

00:00 0 Comments A+ a-

Autobiografi biasanya ditulis oleh seorang public figure, tokoh politik, atau tokoh dunia. Banyak orang yang tertarik membacanya karena dalam tulisan mereka tersemat ide, gagasan yang tak jarang mampu menginspirasi banyak orang. Selain itu tak sedikit orang tertarik membaca autobiografi karena ada fakta yang selama ini tak pernah diungkapkan ke publik.
Lalu aku bertanya-tanya bagaimana kalau yang menulis itu aku, "the ordinary people" yang tak dikenal masyarakat luas, apakah bisa menginspirasi banyak orang ? Hmm, bisa iya, bisa juga tidak.
Apapun itu, inilah tulisannya singkat tentang aku.

*~*~*~*~*
Sebut saja namaku Yoen. Aku lahir dan besar di sebuah dusun kecil di Sleman Yogyakarta. Aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Bapakku adalah seorang mandor proyek dan Ibu adalah wiraswasta pembuat emping melinjo.

Masa kecilku adalah masa yang penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan. Tumbuh di pedesaan membuat masa kecilku akrab dengan sungai, kebun, sawah dan perkebunan tebu. Aku juga beruntung masih mendapati permainan petak umpet, kasti, gobak sodor dan lompat tali sebagai permainanku sehari-hari. Itu salah satu yang membuat masa kecilku tak terlupakan. O ya, waktu aku kecil, aku ini banyak omong. Sampai-sampai salah seorang embahku memanggilku "prenjak". Prenjak adalah adalah nama burung yang suka sekali berkicau. Keren kan julukan embah untukku, he.

Aku masuk TK sejak umur 3 tahun, Tak heran bila saat masuk SD aku sudah lancar membaca. Saat anak lain baru belajar mengeja, aku sudah bisa membaca ini itu.
Sewaktu SD aku mulai berangan mempunyai cita-cita. Kalau ditanya apa cita-citaku, selalu jawabannya adalah menjadi guru. Dalam pandanganku bapak dan ibu guru begitu berwibawa sehingga kekagumanku pada mereka menjelma menjadi cita-cita.

Tumbuh sebagai seorang anak yang pemberani dan mempunyai kemampuan lebih dibanding yang lain membuka banyak kesempatan padaku untuk mewakili sekolah di berbagai kegiatan dan lomba. Walaupun bukan dari keluarga berada yang bergelimang fasilitas aku lulus dengan nilai bagus. 
Pernah suatu ketika aku ditunjuk mewakili sekolahku maju cerdas cermat. Aku tak punya sepatu. Teman baikku meminjami aku sepatu kets warna putih. Sangat serasi dan nyaman sepatu itu di kakiku. Aku merasa sangat pantas memakainya. Ah, sayang itu bukan sepatuku.
Di SMP aku mulai belajar lebih banyak hal. Pikiranku terbuka jauh lebih lebar. Cita-citaku mulai berubah. Aku yang menginjak remaja mulai berangan-angan menjadi seorang akuntan atau pegawai bank. Dan bisa dibilang di SMP ini adalah jaman keemasanku. Mampu meraih nilai terbaik di ujian akhir nasional, menambah rasa percaya diri aku untuk sekolah di SMU favorit di Yogyakarta. Walaupun ke depannya belum tahu akan seperti apa atau kuliah di mana, karena memang di keluarga kami belum ada yang kuliah, tapi waktu itu mantap saja masuk SMA agar bisa kuliah.

Di SMA ini mulai terjadi pergolakan. Tentang angan-angan, cita-cita dan realita. Tentang pencarian jatidiri seorang remaja. Dan seperti anak-anak muda yang lainnya masa ini adalah masa kebebasan bermain dengan teman sebaya. Ada banyak hal yang kalau dikenang sekarang jadi malu sendiri. Tapi tidak dipungkiri di sinilah aku mendapat bekal ilmu-ilmu untuk memudahkan belajar di masa perkuliahan. 

Aku adalah penyuka warna biru dan ungu. Siomay dan nasi goreng adalah makanan kesukaanku. Membaca dan memasak adalah hobiku.


Kegemaranku memasak sudah muncul sejak SMP. Aku suka memotong gambar-gambar resep di tabloid untuk disimpan. Atau kadang mencatat di buku tulis khusus untuk resep. Sempat terobsesi untuk bisa memiliki alat-alat masak, baru kesampaian setelah aku bekerja. Dan sebenarnya blog ini adalah awalnya adalah tempat untuk mengekspresikan dan mendokumentasikan hobiku baking.

Akademi Keperawatan adalah bangku pendidikanku yang kupilih setelah SMU. Kupilih jurusan ini bukan karena minat, tapi karena pertimbangan biaya dan jarak kampus yang relatif dekat. Dan saat itu aku tidak ingin membebani orang tua lebih banyak lagi jadi memilih kuliah di akademi agar bisa cepat mendapat pekerjaan. Kalau mengikuti kata hatiku, sebenarnya aku ingin masuk ke sastra Inggris atau bahkan mempelajari dunia kuliner yang menjadi hobiku selama ini.
Butuh waktu lama untuk menyadarkanku bahwa hidup adalah perjuangan, tidak semua orang mendapatkan yang diinginkan. Ada saat dimana kita melepaskan egoisme dan melihat kenyataan di depan mata dengan lebih realistis.

Pola pendidikan D III yang padat dengan jadwal perkuliahan dan banyak tugas sempat membuat saya kesulitan beradaptasi. Sampai aku pernah mendapat teguran dan tugas karena frekuensi bolos yang cukup banyak.
Di perkuliahan ini tak hanya ilmu dunia yang aku dapat, tapi alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk belajar lebih dalam tentang ilmu agama. Ilmu yang nantinya menjadi rujukan saat aku harus memilih antara tinggal atau harus pergi. Saat dimana aku lulus dan ada banyak pilihan untuk bekerja di tempat yang jauh.

Dalam keyakinanku seorang perempuan memang sederajat dengan laki-laki, tapi langkahnya tidak selebar langkah kaum lelaki. Karena hukum melarangku pergi, maka aku berusaha untuk tidak pergi.

Saat kukirimkan tiga lamaran pekerjaan di tiga rumah sakit di Yogya dan Jawa Tengah. Aku memupuk keyakinan dalam doaku, satu di antaranya akan diterima. Dan Allah mengabulkannya. Aku diterima bekerja di sebuah RS besar di kotaku. Aku bersyukur karena tak perlu merantau meninggalkan ayah dan ibu.

Hari-hari saya menjadi perawat di RS diawali dengan perasaan yang tak kalah campur aduk. Ternyata berat bila melakukan sesuatu tidak dari hati. Namun aku berusaha untuk terus bersyukur. Betapa banyak orang yang sangat menginginkan memiliki pekerjaan yang mapan seperti ini. Betapa banyak dari mereka yang menginginkan seperti yang aku miliki saat ini.

Dan lama-lama akupun terbiasa. Sampai suatu ketika aku begitu merindukan datang ke rumah sakit dengan segala rutinitasnya. Yang tadinya sulit menerima lama-lama menjadi suka. Kadang kala titik jenuh itu datang, tapi selalu ada saja penawarnya yang membuatku selalu bertahan.


Orang tua, tanpa doa mereka belum tentu aku bisa berjalan sejauh ini. Belum tentu banyak kemudahan-kemudahan yang kudapat dalam hidupku. Karenanya, mereka kini aku jadikan perantara untuk lebih banyak menabung  pahala. Semampuku, sebisaku ...
Berbakti kepada orang tua akan menguak langit dan memanggil rejeki.
( Ippho Santosa )
Kini hari-hari kujalani dengan hati yang lebih damai. Bersyukur atas nikmat sehat dan kecukupan rizki yang telah diberikanNya. Dalam hidup, kita akan selalu diuji. Baik berupa kelapangan maupun kesempitan. Banyak yang gagal saat diuji dengan kesempitan Dan tak sedikit yang lalai saat dia diberikan kelapangan.

                          ~*~ sekian~*~

Sebenarnya tulisan ini akan aku ikutkan di giveaway nya Mbak Ika PuspitasariTapi sebelum tulisan ini selesai, eh sudah deadline. Nggak jadi deh ikutan giveaway nya. Tapi tulisannya tetap aku selesaikan dan diposting di bulan Maret ( padahal selesai nulisnya bulan Agustus, he ). Terimakasih ya Mbak atas ide tulisannnya. Sepertinya ini tulisan terpanjang yang pernah dibuat.

Terima kasih telah berkunjung. Mohon maaf atas moderasi yang saya lakukan. Saya akan berusaha membalas komentar secepatnya ...