Kueku . . . Halalkah ?

07:50 0 Comments A+ a-



Suatu ketika, saat browsing dan blogging, saya membaca sebuah artikel yang mengulas tentang bahan tambahan pangan. Pas sekali dengan kegemaran saya membuat kue. Artikel mengenai cake emulsifier, baking powder, soda kue, ragi instan, pewarna makanan, rhum dan masih banyak lagi. Dari hasil baca-baca tersebut saya tahu ternyata tidak semua bahan-bahan tersebut dapat dipastikan kehalalannya. Selama ini saya tak pernah menyadarinya, tahunya hanya menggunakan tanpa memperhatikan sisi halalnya.

Dan saya semakin rajin mencari informasi seputar bahan-bahan pembuat kue. Mencari tahu sebuah produk terbuat dari bahan apa, bahan campuran yang digunakan dan bagaimana proses pembuatannya. Tujuannya tentu saja agar kita tahu kehalalannya atau paling tidak mengetahui unsur yang terkandung di dalamnya. Karena sebuah produk bisa saja terdiri dari satu unsur/bahan atau dalam pembuatannya ditambahkan dengan bahan lain. Saya juga mulai mengamati di supermarket-supermarket, apakah ada label halal pada kemasan sebuah produk. Ternyata bahan-bahan yang selama ini kupakai tidak mempunyai label halal.

Semenjak itu aku semakin selektif memilih produk makanan maupun bahan tambahan makanan. Terutama bila kita tahu produk tersebut mempunyai titik kritis kehalalan, misal produk yang mengandung lemak, karena sumber lemak bisa diambil dari hewan atau nabati. Bahan-bahan seperti ovalet, TBM, baking powder, beberapa merk ragi dan masih banyak produk di sekitar kita yang tidak berlabel halal dan tidak mencantumkan daftar kandungan/unsur di dalamnya.
Bahan-bahan tersebut sangat bermanfaat dalam pembuatan kue, tetapi bila kita meragukan kehalalannya kita tidak perlu menggunakannya. Menurut pengalamanku, kita tetap bisa berkreasi membuat kue yang bagus, walaupun tidak menggunakan bahan-bahan tersebut. Asalkan kita mengolahnya dengan teknik yang benar, hasilnya akan memuaskan.

Majelis Ulama Indonesia merupakan lembaga resmi yang diberikan wewenang untuk mengeluarkan sertifikat halal di Indonesia. Tetapi karena berbagai faktor, tidak semua produsen makanan dan tambahan pangan mendaftarkan produknya ke MUI. Semoga saja nantinya semakin banyak produsen makanan dan bahan tambahan pangan di Indonesia ( yang notabene mayoritas muslim ) yang memperhatikan kehalalan dari sebuah produk.

Terima kasih telah berkunjung. Mohon maaf atas moderasi yang saya lakukan. Saya akan berusaha membalas komentar secepatnya ...