Wasiat Wahb Bin Munabih Tentang Akhlak Mulia

11:30 0 Comments A+ a-


Wahb Bin Munabih berkata :
"Jika anda hendak melakukan ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla, maka seriuslah dalam nasihatmu dan ilmumu karena Allah, karena amal perbuatan tidak diterima dari orang yang bukan pemberi nasihat. Sesungguhnya nasihat karena Allah 'Azza wa Jalla itu tidak sempurna kecuali dengan taat kepada Allah, seperti halnya buah yang baik, aromanya enak dan rasanya lezat. Itulah perumpamaan taat kepada Allah, aromanya adalah nasihat dan rasannya ialah amal perbuatan. Kemudian hiasilah ketaatan kepada Allah dengan ilmu, sikap lemah lembut dan fiqh.

Kemudian muliakanlah dirimu dari akhlak orang-orang bodoh dan hiasilah dengan akhlak para ulama. Biasakan  dirimu mengerjakan amal perbuatan orang-orang lemah lembut dan jauhkanlah dari perbuatan orang-orang yang celaka. Biasakan dirimu dengan sejarah hidup para fuqaha' dan kosongkan dirimu dari jalan-jalan orang-orang yang bejat.

Jika anda mempunyai kelebihan, bantulah orang yang levelnya di bawah anda dengan kelebihan tersebut. Jika orang yang levelnya lebih rendah dari pada kevel anda mempuyai kelemahan, bantulah dia hingga ia menjadi selevel dengan anda, karena orang bijak itu mengumpulkan seluruh kelebihannya kemudian memberikannya kepada orang yang levelnya ada di bawahnya. Setelah itu ia mengamati kekurangan orang-orang yang levelnya lebih rendah daripada level dirinya kemudian ia meluruskannya hingga sama dengan level dirinya.

Jika orang bijak tersebut adalah orang faqih ( ahli fiqh ) maka ia menanggung orang yang tidak mempunyai fiqh  jika orang tersebut ia lihat ingin bergaul dengannya.
Jika orang bijak tersebut mempunyai uang, ia memberikannya kepada orang tidak mempuyai uang.
Jika orang bijak tersebut seorang da'i, ia memintakan ampunan kepada Allah untuk orang yang berdosa jika orang tersebut bisa diharapkan bertaubat.
Jika orang bijak tersebut orang baik-baik, ia berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat terhadap dirinya dan menghrapkan pahala dari sikapnya tersebut.

Ia tidak tergoda berbicara hingga ia bisa mengamalkan apa yang diucapkannya. Ia tidak ingin melakukan ketaatan kepada Allah jika ia tidak mampu  melakukannya. Jika ia mampu melakukan sedikit ketaatan kepada Allah, ia memuji Allah, kemudian ia meminta apa yang belum mampu ia kerjakan.

Jika ia mengetehaui sebagian dari hikmah ( ilmu ), ia tidak merasa kenyang hingga ia  mempelajari ilmu yang belum ia miliki.

Jika ia ingat kesalahannya, ia menutupnya dari manusia dan meminta ampunan kepada Allah Yang Mampu memberi ampunan kepadanya.

Kemudian ia tidak menggunakan ucapannya untuk berbohong, karena bohong dalam bicara adalah seperti hewan pemakan kayu, ia melihat luarnya bagus, namun nyatanya dalamnya rusak. Orang yang senantiasa tertipu dengan pohon tersebut mengklaim bahwa pohon tersebut mampu menyangga apa yang ada di atasnya, hingga akhirnya pohon tersebut merusak apa saja yang ada di dalamnya dan binasalah orang yang tertipu dengannya.
Begitu pula bohong dalam lembicaraan. Pelakunya selalu tertipu dengannya dan mengklaim bahwa bohong tersebut membantu dirinya dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan keinginannya. Hal tersebut terus terjadi pada dirinya hingga ketertipuan orang tersebut dilihat orang-orang yang berakal dan ulama melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mereka. Jika para ulama mengetahui persoalan  orang tersebut dan kedoknya terlihat oleh mereka, mereka mendustakan informasinya, membatalkan kesaksiannya, meragukan kejujurannya, melecehkan dirinya, tidak suka duduk dengannya, merahasiakan rahasia-rahasia mereka dari orang tersebut, menyenbunyikan pembicaraan mereka, tidak memberikan amanah mereka kepada orang tersebut, merahasiakan persoalan mereka terhadap orang tersebut, bermuka masam kepada orang tersebut dalam masalah agama mereka dan masalah kehidupan meraeka, tidak menghadirkan sesuatu apapun kepada orang tersebut, tidak mempercayai orang tersebut untuk menerima sedikitpun dari rahasia-rahsasia mereka dan tidak memutuskan perkara yang dihadapi orang tersebut. ( Diriwayatkan Abu Nu'aim )

( sumber : Wasiat - Wasiat Ulama Terdahulu, Syaikh Salim Bin Ie'd Al Hilali )

Terima kasih telah berkunjung. Mohon maaf atas moderasi yang saya lakukan. Saya akan berusaha membalas komentar secepatnya ...