Maret 2000 - Maret 2012

06:16 0 Comments A+ a-


Mengapa memilih menjadi perawat ? Kalau pertanyaan ini diajukan 15 tahun yang lalu, mungkin aku juga tidak tahu jawabnya . Teringat saat itu setelah lulus SMA, harus memilih program pendidikan yang relatif singkat, yang itu berarti lebih sedikit biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua, lokasinya dekat  dan yang tidak kalah penting peluang kerja terbuka lebar. Akademi Perawatan akhirnya dipilih karena memenuhi semua kriteria.

Hari ini genap 12 tahun kujalani profesi ini. Belum seberapa bila dibanding rekan senior yang hampir 30 tahun menjalaninya. Aku belum  separuhnya…
Namun begitu waktu yang singkat itu telah menggoreskan banyak warna. Kulewati masa kerja 0 tahun hingga sekarang dalam lingkungan kerja yang begitu dinamis. Membantu klien yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Bersama insan seprofesi dan teman sejawat yang kadang-kadang “ajaib” watak dan karakternya.

Setiap profesi pasti mempunyai pengalaman yang unik. Begitu juga dengan perawat, ada pengalaman-pengalaman yang tidak bisa ditemui oleh profesi lain. Pengalaman yang tidak semuanya bisa diungkapkan melalui kata maupun pena. Menjadi perawat membuat kita selalu ingat bahwa kita adalah orang yang sangat beruntung. Merawat klien dengan semua masalahnya, dari yang baik prognosisnya hingga yang divonis penyakitnya  abadi. Semua itu menyadarkan kita bahwa kesehatan itu sangat mahal, tak ternilai.

Menjadi ujung tombak pelayanan, perawat menjadi orang yang paling sering berinteraksi dengan pelanggan ( pasien ). Akibatnya perawat yang paling  sering menerima komplain, bahkan kadang-kadang tumpahan kemarahan dan caci maki tanpa alasan yang benar. Karakter individu yang unik kadang menjadi sumber konflik. Walaupun sikap  profesionalisme berusaha dikedepankan, namun kadang karakter individulah yang mendominasi. Memang tidak mudah untuk merawat pasien secara utuh, tidak hanya fisik tetapi juga psiko sosio kultural dan spiritualnya.

Langkah ini melewati waktu  dalam ketidaksempurnaan. Begitu banyak kekhilafan dan kemaksiatan. Ketidaksabaran menghadapi lingkungan, yang sebenarnya itu diberikan Allah sebagai ujian. Akhirnya, berdoa dan bersyukur adalah obat penawar yang paling manjur.

Yaa Rabbi, kokohkanlah punggung ini
Agar kami kuat memikul ujian yang Engkau berikan
Mudahkanlah urusan kami
Lapangkanlah rezeki kami
Pertahankan aku di sana bila tempat itu yang terbaik
Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat
Amiin . . .

Terima kasih telah berkunjung. Mohon maaf atas moderasi yang saya lakukan. Saya akan berusaha membalas komentar secepatnya ...